Archive for March 2009




Super Class Goes to Heritage Night Trail

Saya berlari-lari cepat meninggalkan PIM I (Pondok Indah Mall),
buru2 keluar mencari taksi. Saya barusan bertemu dengan teman2 KGI,
asyik ngobrol jadi lupa waktu. Waktu sudah menunjukkan Pk. 15.15,
padahal saya janji dengan anak2 akan berkumpul di pelataran bawah
SMA 3 Jakarta pk.15.00. Sambil berlari saya menelpon Atika,
bendahara kelas memberitahukan bahwa saya akan datang terlambat,
setengah jam lagi, begitu saya katakan padanya. Ternyata baru ada 4
orang yang datang. Yang lain masih “OTW miss” begitu Tika
melaporkan. Maklum saja, anak2 itu baru selesai belajar fisika pk.
13.00 dan semua memilih pulang atau ke rumah temannya yang terdekat
untuk mandi dulu.

Sore dan malam ini, dimulai dari pk. 17.00 s/d pk. 22.00 kami akan
menghabiskan malam minggu dengan berkeliling kota tua Jakarta. Ini
bagian dari pemelajaran bahasa Inggris yang saya integrasikan
dengan “Heritage Education”. Setelah melakukan berbagai kegiatan
mingguan yang berhubungan dengan tema, performance task nya adalah
berkunjung ke Kota Tua Jakarta, membuat essay tentangnya dan membuat
media promosi untuk Pelestarian Kota Tua tersebut.

Bus berangkat tepat pk. 16.30, menuju Museum Bank Mandiri, tempat
kami menjemput Mba Yanti, tour leader dari Komunitas Historia
Indonesia, suatu komunitas pencinta budaya dan peninggalan sejarah
yang digawangi oleh Kang Asep Kambali. Kebetulan saya termasuk salah
satu anggota milisnya. Hanya butuh waktu setengah jam dari
setiabudhi menuju museum bank mandiri. Di sana sudah menunggu Mba
Yanti yang langsung membawa kami menuju Museum Bahari, tempat
pertama kami akan berkunjung.

Boleh dibilang, jalan menuju Kota Tua Jakarta bukanlah tempat
menarik untuk dilihat. Sungai yang mengalir berwarna kuning karena
sampah yang menumpuk, jalan2 semrawut yang padat oleh kendaraan
bermotor, gedung2 tua yang tidak terurus dan dibiarkan ditinggalkan
begitu saja, kusam. Begitu kami memasuki kawasan Museum Bahari yang
terletak di tengah pasar kumuh, kotor dan becek (tapi tidak dengan
nada “Cinta Laura” lho…) anak2 langsung berkomentar. Ih…jijik,
ih…kotor, dan berbagai macam “ih…” lainnya. Ada juga yang
protes, kok kita ke tempat ini sih miss? ada yang lebih jelek lagi
nggak miss? Saya cuma mesam-mesem sambil bilang “biar begitu jelek
ini ada sejarahnya.. , habis ini kalian pasti tidak mau pulang.”

Kami parkir di pelataran parkir sempit Menara Syah Bandar dan
berjalan kaki menuju Museum Bahari. Museum Bahari adalah bangunan
tua peninggalan Belanda yang dulunya dipakai sebagai kantor pertama
JP Coen, Gubernur Belanda yang mengalahkan Fatahillah dulu. Bangunan
tua, bentuknya mirip dengan bangunan2 di Eropa dengan jendela2 kayu
besar. Namun kondisinya saat ini dalam keadaan tidak terawat, kumuh
karena hanya dirawat oleh seorang penjaga. Begitu masuk kami
disambut oleh Pak Sukma sekeluarga. Pak Sukma adalah penjaga
sekaligus tour guide di museum Bahari ini. Walaupun beliau hanya
penjaga museum, namun beliau jago menjelaskan berbagai hal tentang
museum ini dan sejarah kota Batavia. Berbagai pertanyaan anak2
tentang sejarah, tempat berdiri sampai pertanyaan saya mengapa peta
besar kota tua berbahasa perancis bisa beliau jawab. Beliau juga
sangat canggih menjelaskan tentang Daendals, gubernur Belanda yang
ternyata murid kesayangannya Napoleon. Ini ada kaitannya mengapa
peta tua berbahasa perancis.

Belakangan kami tahu, Pak Sukma tidak punya rumah dan tinggal di
museum menempati salah satu ruang belakang yang ada di museum.
Beliau tinggal dengan istrinya yang lumpuh dan tidak bisa bicara
karena stroke. Kasihan…kami jadi miris melihatnya. Seorang Sukma
yang piawai dengan sejarah Jakarta hidupnya begitu menyedihkan. ..

Maghrib tiba, anak2 bersiap-siap sholat maghrib di aula besar Museum
Bahari yang sudah disulap jadi musholla dan ruang makan. Selesai
sholat, kami makan malam yang disediakan oleh Pak Jaya. Menunya
dalah Nasi Ulam lengkap. Ini makanan khas Betawi yang terdiri dari
nasi, dengan lauk bihun goreng, telur dadar, semur tahu, dendeng
daging, sambel kacang dan krupuk emping. hhhhmmmmmmmmm. ..yummy deh.
Apalagi Pak Jaya adalah salah satu anggota Komunitas Jalan Sutra nya
Bondan Winarno, pakar kuliner nusantara itu. Wuaaahhhh… top
markotop, sip markusip deh…

Selesai makan, kami langsung menuju Menara Syah Bandar. Letaknya
cuma 100 meter dari Museum Bahari. Mulai dari Menara Syah Bandar
kami akan ditemani oleh Mas Gogon, tour guide dari Historia bertubuh
besar dan berambut gondrong tetapi ramah dan canggih dalam
menjelaskan semua tentang peninggalan jaman Belanda di Batavia. Mas
gogon menjelaskan dalam bahasa Inggris, sesusai permintaan saya.
Dulunya, menara Syah Bandar dulunya dipakai sebagai menara kontrol
bagi kapal2 yang masuk ke Batavia. Di dalamnya ada bekas lampu
sorot, prasasti peninggalan pedagang China. Dari atas menara kami
bisa lihat lampu2 dan lalu lalang kendaraan di Jakarta. Karena kami
melihat di malam hari, jadinya Jakarta begitu indah dengan sinar
lampu dari gedung bertingkat, lampu jalan dan kendaraan. Terbayang
kalau kami melihat di siang hari, pasti pemandangan tidak sedap di
pandang mata karena penuh dengan rumah kumuh, sungai penuh sampah.
hehehe…ibukota oh, ibukota…

Semua anak2 super narsis, termasuk gurunya (hehehe…) jadilah kami
selalu menyempatkan berfoto-foto ria di mana pun dan kapan pun kami
berada. Kebetulan, Mba Yanti juga seorang fotografer, jadilah malam
itu penuh dengan sesi foto kelas super. hehehe…

Perjalanan dilanjutkan menuju Gedung Cipta Niaga. Gedung ini benar2
sudah ditinggalkan dan tidak terawat sama sekali. Padahal, dulunya
gedung ini merupakan pusat perdagangan dan transaksi bisnis antara
Indonesia, Belanda, China, ChampaKesan seram, gelap dan bau
menyengat menyambut kedatangan kami. Anak-anak ditantang untuk
berani naik ke lantai dua yang gelap, berdebu, bau dan penuh dengan
sarang laba2.hhhiiiiiyyyyy yyyy…..
Di sini saya tidak kuat, bukan karena takut, tapi karena bau
menyengat yang membuat asma saya langsung hampir kambuh.

Sudah puas melihat keseraman Cipta Niaga, kami langsung menuju
pelataran belakang taman Museum Fatahillah. Suasana riuh rendah di
taman dan lapangan depan museum karena dipakai untuk pembukaan Java
Jazz Festival. Anak2 dan saya sempat ikut nyanyi dan berjoget ala
jazz selama beberapa menit.

Kami tidak diijinkan masuk ke museum karena saat itu museum
digunakan sebagai “base camp” peserta Java Jazz. Jadilah kami hanya
mengunjungi pelataran belakang museum. Mas Gogon menjelaskan bahwa
dulunya, museum adalah kantor gubernur JP Coen. di taman belakan ada
meriam yang terbuat dari tembaga asli dan dengan berat sekitar 100
ton. Tembakannya sangat tepat dan dapat mencapai 500m sampai 1 km
sasaran tembak. ck…ck…ck. .. Tepat di depannya, berdiri patung
dewa “Hermes” sedang memegang tombak lambang kedokteran. Patung ini
merupakan hadiah dari Napoleon untuk Daendals. Murid saya, Atika
yang sangat gemar mempelajari tentang dewa/i Yunani kuno langsung
saja ikut menjelaskan tentang Hermes ini. Kami juga masuk ke lorong2
dan gua2 tempat para tahanan Indonesia disiksa dan dipenjarakan.
Tadinya saya dan anak2 ragu (setengahnya adalah takut.hehehe. ..)
untuk masuk. Tempat itu berupa gua2 kecil, gelap, pengap setinggi
140cm dan luas cuma sekitar 2X2m2. Di dalamnya ada bola2 besi dalam
jumlah banyak. Jaman dulu, sekitar 30-40 tahanan laki2 dimasukkan
dalam ruangan ini. Posisi mereka harus dalam keadaan berdiri dengan
kaki diikat dengan bola2 besi tadi. Bisa dibayangkan betapa tersiksa
dan sengsaranya mereka. Pasti banyak yang mati lemas karena
kekurangan oksigen hanya dalam hitungan beberpa jam saja. Andika
yang teliti langsung mencoba dan mempraktekkan bagaimana para
tahanan dulu disiksa. Komentarnya adalah : “I don’t like it at all
miss”. Wuuahhh…siapa sih yang suka jadi tahanan. Kamu ada2 saja
Andika…

Di Museum Fatahillah ini kami dikejutkan oleh tantangan dari Wakil
Kepala Museum Fatahillah, Pak Fajar yang mengatakan bahwa museum ini
ada “penunggu”nya yang beliau bawa dari Pulau Onsu (bukan milik
Ruben Onsu, ya…). Pak Fajar bilang bahwa beliau membawa beberapa
tengkorak tahanan wanita yang dibuang ke pulau itu. Saya sendiri
tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tetapi menurut beberapa
teman di Historia itu benar. Wallahu alam…
Anak2 ditantang untuk masuk dan bertemu dengan “beliau” di dalam.
Bisa dibayangkan riuh rendah jeritan anak2 super. Andika yang dari
tadi minta saya untuk mengijinkannya melihat keanehan2 di berbagai
museum tidak tahan lagi. Dia langsung tunjuk tangan. Jadilah ketiga
murid saya, Andika, Usykur, Jiyi, dan ditemani “pawang hantu” Pak
Slamet, masuk ke dalam museum. Tiba2, 15 menit setelah mereka pergi,
lampu luar museum dimatikan. Anak2 yang tinggal bersama saya di luar
menjerit-jerit. Tak lama, keempat orang yang tadi masuk keluar. Kami
yang di luar malah lebih deg-degan. Anak2 yang lain menghujani
teman2nya dengan berbagai pertanyaan. Yang keluar dari mulut
ketiganya cuma “I couldn’t see anything but I felt hot.
It’s ‘different’ hot” hehehe…saya juga tidak tahu apa maksud
Usykur yang mengatakan “different hot”. Tapi menurut Pak Fajar dan
Pak Slamet, sang “Putri” baru akan menampakkan “kecantikan” nya
kalau yang datang hanya bertiga, sedangkan tadi ada empat orang. Ini
juga entah benar, entah tidak…

Kami meninggalkan Museum Fatahillah dengan berbagai macam perasaan.
Anak2 ramai membahas ini sampai kami tiba di tempat terakhir
kunjungan kami, Museum Bank Mandiri.

Di Museum Bank Mandiri kami disambut dengan meriah oleh beberapa kru
Historia. Ada Mba Bondet, Koordinator acara, Mas Hendry, pembina
nasional pramuka, Mas Hendra, juga dari Pramuka Nasional, dan yang
paling ditunggu adalah Kang Asep Kambali. Kang Asep sengaja datang
dari Solo untuk bertemu kami. Rencananya, saya dan tokoh2 di atas
akan membuat project sejarah untuk acara Kebangkitan Nasional, 17
Agustus, Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan. Ayooo…siapa yang mau
bergabung dengan kami??

Di MBM (Museum Bank Mandiri) kami melihat ruang sidang, ruang rapat,
ruang koleksi hadiah dari berbagai negara dan ruang penyimpanan uang
jaman dulu. Wuuaahhh…koleksin ya banyak sekali. Di depan tangga
menuju ruang direksi ada kaca patri yang menyimpan cerita tentang
dewi kesuburan. Kaca ini dibuat oleh Van Tom, pendiri museum.
Ternyata, di situ ada pattern-nya lo. Jadi lah anak2 juga sibuk
memotret pattern itu. Minggu ini akan kami masukkan dalam blog.

Waktu sudah menunjukkan pk. 22.30. Setengah jam lebih lama dari
jadwal yang ditentukan. Anak2 tidak ada yang mau beranjak dari
tempat mereka berdiri di depan teller MBM. Mereka masih mau lagi
jalan ke Jembatan Kota Intan dan Toko Merah. Sayangnya perjalanan
harus selesai karena minggu ini anak2 akan ikut lomba matematika.
Setelah saya bujuk2 mereka bahwa kami akan kembali lagi di program
historia bulan depan, baru mereka beranjak dan menyalami kru
Historia dengan sedikit “ancaman” : Benar ya Pak Asep, bulan depan
kami diajak naik sepeda ontel…”

Kami pulang dengan perasaan puas, senang dan lelah. Tetapi banyak
pelajaran, kenangan yang kami bawa dari jalan-jalan kami, termasuk
PR besar yang diminta oleh Pramuka dan Historia Indonesia, membuat
sesuatu untuk pelestarian sejarah kota tua. Insya allah kami deiberi
kekuatan. Rencananya, Saya dan Kelas Super X akan menjadi pilot
project pelestarian budaya kota tua Jakarta dan museum2 yang ada di
Jakarta. Insya allah…(adakah teman2 yang tertarik bergabung?)

Ohya, laporan mengenai kegiatan dan tulisan anak2 tentang sejarah
kota tua akan dimuat di website Historia Indonesia
www.historiaindones ia.org dan di TV O’Channel. Selamat menikmati
hasil karya kami.

Semoga bermanfaat dan berkenan.

Salam Sejarah, Salam Kenangan,

Nina

Add a comment 03/03/2009

Appointments

March 2009
M T W T F S S
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Me, Myself and I

Archives

Meta

Recent Posts

Categories

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.