Archive for February 18th, 2009
Heritage Sites and Traditional Games Goes to Super X Class
Heritage Sites and Traditional Games Goes to Super X Class Sabtu tepat tanggal 14 Februari 2009, hari yang ditasbihkan sebagai hari kasih sayang oleh hampir seluruh remaja2 di dunia, kelas Super X SMA 3 Jakarta mengekspresikan hari kasih sayang dengan mempersembahkan berbagai permainan tradisional Indonesia sebagai bentuk kecintaan dan kasih sayang mereka akan budaya Indonesia. Pagi, anak2 sudah berkumpul di dalam kelas. Ke-13 anak saya yang memiliki IQ di atas 150 itu sudah sibuk mencatat, memperagakan berbagai alat yang mereka bawa dari rumah. Ketika saya datang tepat pukul 7.00, mereka ngeriung, masing2 sibuk memperlihatkan permainan tradisional yang sudah disiapkan. Setelah berdoa pagi dan mempersilahkan para guru dan sebagian orang tua yang hadir, Mawan sang ketua kelas memulai acara, membukanya dengan sambutan dalam bahasa Inggris. Dia kemudian mempersilahkan saya bicara. Saya bicara cuma 5 menit, intinya adalah bahwa acara semacam ini adalah performance task, tugas akhir setiap anak2 selesai mempelajari satu topik. Kebetulan topik bulan ini adalah English with Heritage Education, jadinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan Heritage, warisan budaya dikupas habis selama satu bulan ini. Tiap minggu, selain belajar kompetensi2 dasar berbahasa Inggris, anak2 juga belajar tentang berbagai tema yang menyangkut topik besarnya. Kompetensi dasar yang dibahas minggu lalu misalnya, adalah “modals”. Selama satu jam mereka belajar tentang modals, membuat kalimat, memberi contoh, bercakap-cakap dengan menggunakan modals, mencari “modals” dalam satu teks (teks nya tentang heritage yang saya dapat dari UNESCO), mengartikannya, mengulas fungsinya dan membahasnya bersama-sama. Setelah itu, siangnya mereka membuat presentasi tentang situs2 sejarah, bangunan bersejarah, tempat bersejarah dan berbagai hal tentang sejarah. Sebelumnya, mereka “browsing” dari internet untuk mendapat kelengkapan informasi tentang situs yang akan mereka presentasikan. Sabtu tanggal 14 Februari kemarin ceritanya adalah jadwal mereka mempresentasikan semua hal tentang heritage. Ceritanya, mereka akan mengusulkan situs tersebut untuk dijadikan “World Heritage” baru. Bagus2 lo… Agung, misalnya, murid saya yang selalu tersenyum ini mengusulkan Pulau Kakaban di Kalimantan untuk dijadikan “Indonesian Heritage” baru karena terkenal dengan penangkaran penyu bintik. Wah, …saya yang gurunya saja baru tahu soal itu. Sementara Satya, murid saya yang hobi makan menampilkan situs Trowulan yang sedang ramai dibincangkan karena dirusak oknum tidak bertanggung jawab. David, murid saya yang orang Batak membahas tentang Pulau Samosir dan Tomok. Sementara Bintang, gadis Batak yang lahir di Papua menampilkan keindahan Raja Ampat dengan wisata lautnya. Dalam hati saya berbangga anak2 sudah mulai berani tampil, juga bangga karena saya sudah pernah ke Raja Ampat, jadi bisa cerita tentang keindahan lautnya. Jam 09.00, kami menyuguhkan makanan tradisional. Ada ongol2, getuk lindri, lemet singkong, talampisang. Tami yang selalu diledek teman2nya karena kalau berbicara bahasa Inggris seperti Cinta Laura membawa empek2 Palembang, Atika membawa tampah berisi nasi kuning lengkap, Andika membawa bubur sum-sum, Mawan sang ketua kelas membawa rendang. Wah…ibumu yang masak ya? Saya sendiri membawa rengginang dari malang. Di Sesi kedua, tibalah saatnya sesi permainan tradisional. Atika mempresentasikan tentang “Bentengan”, Alpin mempresentasikan tentang “Dampu”, Rachel mengajak para undangan bermain “Suit”, Usykur menampilkan strategi perang jitu dalam “kapal perang” (terus terang yang ini saya baru tahu…), ada Arya yang bermain gundu dan David bercerita tentang permainan Maryam Tomong dari daerah asalnya, Tanah Batak. Di Sesi ketiga adalah pakaian tradisional. Anak2 menampilkan berbagai pakaian daerah mereka masing2. Alpin yang berasal dari Minang menampilkan songket Pande Sikek, Mawan juga membawa songket Palembangnya. Rachel dari Lampung dan membawa Tapis Lampung. Andika si anak Batak membawa ulos. Atika membawa kain batik pekalongan. Wuaahhh…seru, seru… Tetapi bagian paling seru adalah saat anak2 mengajak kami, guru dan orang tua untuk demonstrasi permainan tradisional mulai dari gobak sodor, gasing, main karet (ada yang masih ingat?), bentengan, karambol, cublak-cublak suweng, egrang, ciplek gunung, cicikoci, dan yang terakhir adalah benjang. Ada yang tahu apa itu benjang? Benjang adalah permainan dari Tanah Batak, yang dimainkan persis seperti orang bergulat atau bermain sumo di Jepang. Bedanya adalah dua pemain saling mengalahkan lawannya dengan menggunakansalah satu bahu mereka. Mereka juga dilarang menggunakan tangan mereka dalam mempertahankan diri mereka. Ini benar2 permainan baru buat saya, padahal ibu saya berasal dari Tanah Batak juga lo, tapi kok saya tidak tahu ya? Hehehe… Bagian terakhir dari rangkaian acara ini adalah Tour Mengunjungi Kota Tua Jakarta bersama dengan Komunitas Historia Indonesia pada tanggal 28 Februari 2009. Rencananya kami akan mengunjungi Kota Tua Jakarta dengan Museum Fatahillah, Bank Mandiri, napak tilas, ke jembatan tua, stasiun kota dan menginap di Museum Bank Mandiri. Semoga acara ini dapat berjalan dengan lancar. Semoga cerita di atas bermanfaat bagi teman2 semua… Salam Heritage, Nina
Add a comment 18/02/2009